AGENDA KEGIATAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
30 Januari 2025 oleh ntb
Salah satu korban penembakan Petugas Agensi Penguatkuasa Maritim Malaysia (APMM), Andry Ramadhana, kini diminta untuk menjadi saksi kunci di balik peristiwa yang terjadi di Perairan Tanjung Rhu, Selangor, Malaysia.
Dari enam orang korban yang terkena tembakan, Andry adalah salah satunya. Dia mengalami luka tembak pada bagian lengan.
Pada saat kejadian, Andry meloloskan diri dengan sejumlah WNI lainnya. Dia bahkan sempat bersembunyi karena ketakutan. Saat berada di tempat persembunyian itu, Andry tiba-tiba dihubungi oleh anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman Haji Uma.
Dari bari balik sambungan telepon, Andry kemudian berani buka suara setelah dibujuk dan dijamin akan keselamatannya.
Haji Uma mengatakan, Andry dapat menjadi saksi kunci atas peristiwa penembakan tersebut.
Dialah yang memberikan semua informasi tentang kejadian di lapangan. "Si Andry Ramadan ini dia tidak pergi ke rumah sakit, dia meloloskan diri seperti beberapa penumpang lainnya. Jadi penumpang ini sudah belarian meloloskan diri, berpencar," kata Haji Uma saat dihubungi via telepon, Selasa (28/1/2025).
Menurut Haji Uma, usai kejadian itu tidak ada satu orang pun yang bisa diambil keterangan sebagai saksi karena mereka sudah berpencar. Namun, setelah menerima informasi tentang adanya warga Aceh, Andry Ramadhana, yang ikut menjadi korban, Haji Uma berinisiatif untuk mencari nomor handphonenya.
"Saya bujuk dia, karena dia sedang berada dipersembunyian akibat ketakutan. Setelah saya bujuk, video call dia, saya mengatakan akan menjamin keselamatannya," tutur Haji Uma.
Tidak lama setelah itu, Haji Uma kemudian langsung berkonsultasi dengan Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kemenlu, Juda Nugraha. Kemudian, sebut Haji Uma, mereka bertiga berkomunikasi secara bersamaan lewat sambungan telepon, dan meminta bantuan untuk memberikan perlindungan kepada Andry.
"Alhamdulillah pagi kemarin, Andry Ramadan sudah didatangi oleh anggota KBRI Malaysia untuk memberikan perlindungan," ungkapnya.
Menurut pengakuan Andry, kata Haji Uma, mereka sama sekali tidak melakukan perlawanan. Hanya saja kapal mereka dikejar oleh dua unit armada milik APMM.
Pengejaran itu berlangsung sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka berlayar di pinggiran laut Banting, Selangor. Para WNI ini dikejar hingga ke perbatasan pelayaran kapal (jalur kapal-kapal besar).
"Jadi kapal para WNI ini disalip dari depan, sebelum itu APMM melakukan penembakan dari jarak sekitar 20 meter dari belakang. Jadi itu seperti dibrondong lah," ucapnya sesuai penjelasan Andry.
Di tengah pengejaran itu, akhirnya boat yang ditumpangi WNI ini berhasil meloloskan diri masuk ke hutan bakau yang ada di Banting, Selangor. Sedangkan APMM tidak lagi melakukan pengejaran karena sudah hilang jejak.
"Jadi mereka itu (APMM) ketika boat WNI bersandar di hutan bakau, mereka melakukan pengecekan, kemudian diketahuilah ada penumpang tertembus peluru dan satu di antaranya meninggal dunia," pungkas Haji Uma.